kisah pembelajaran tentang desain grafis lewat media lain

0
297

Bicara tentang perkembangan desain grafis di indonesia. Selain kita mengenali nya di dunia desain, bisa juga kita ungkapkan di media lain. Salah satunya yang saya temukan dari sosok Bapak Priyanto Sunarto yang sudah berkelut di dunia desain grafis dan beliau juga menuangkan pikirannya lewat artikel atau tulis tangan nya sendiri.

Beliau seorang dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Bandung hingga saat ini. Dan hasil karya-karya nya tersebut masih bisa dijumpai, walau terkadang sulit untuk kita menenemukan beliau. Untuk itu DGI (Desain Grafis Indonesia) menerbitkan bukunya yang berjudul “Pri S.: Serumpun Tulisan.” Buku ini diterbitnya dalam rangka Tribut untuk Priyanto Sunarto berjudul “Pri S: Serpihan Karya dan Arsip” di Selasar Sunaryo Art Space Jalan Bukit Pakar Timur No 100 Bandung.

Ketua DGI Ismiaji Cahyono mengatakan, penerbitan buku yang menyangkut hasil karya Pak Pri sudah direncanakan sejak 2014. “DGI juga menerbitkan kumpulan artikel. Namun tulisan-tulisan Pak Pri harus dibukukan tersendiri. Buku tersebut menghimpun artikel yang ditulis Pak Pri dari tahun 1980-2000. “Saat menelusuri tulisannya, ternyata mengandung bobot yang besar. Misalnya artikel yang ditulis tahun 80-an Pak Pri memakai kacamata yang jauh ke depan,” katanya.

Artikel yang ditulis Pak Pri, sambung dia, bukan hanya berisi petuah, tetapi juga mengandung ajakan dan tantangan khususnya di bidang desain grafis. “Maka dari itu kami memutuskan perlu buku khusus tentang almarhum Priyanto,” kata pria yang juga murid Pak Pri.

Ia menambahkan, buku tersebut lahir berkat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk beberapa murid Pak Pri. Antara lain Vera Rosana yang menjadi desainer buku, Selasar Sunaryo Art Space dan sejumlah pihak lainnya.

Vera Rosana mengaku awalnya merasa berat harus membuat desain buku tentang pemikiran gurunya. Menurutnya, Pak Pri bukan hanya guru, tetapi seniman besar di bidang desain grafis.

Menurut perempuan kelahiran Bandung yang kini mengajar di Binus Jakarta, peran Pak Pri sangat besar dalam perjalanan kuliah maupun kariernya. “Begitu lulus kuliah di ITB, Pak Pri nanya mau ke mana. Saya bilang mau ngajar. Lalu Pak Pri bilang, kalau cangkirnya belum penuh apa yang mau ditumpahkan?”

Setelah mendapatkan pertanyaan itu, Vera sadar dirinya masih harus terus belajar. Ia memutuskan untuk kembali kuliah. Setelah lulus ia mulai mengajar.

“Buku ini berisi isi cangkir Pak Pri yang akan memberi inspirasi. Apa yang dia tumpahkan ke murid-muridnya akan ditumpahkan kembali tak berhenti,” katanya.

Dalam membuat desain, ia berusaha menyajikan karakter yang khas yang mewakili setiap artikel yang ada di buku. Ia berharap desainnya bisa menarik pembaca dari halaman awal sampai akhir.